Demi Belajar Online, Anak-anak Tapsel Lalui Jalur Perlintasan Harimau

Demi Belajar Online, Anak-anak Tapsel Lalui Jalur Perlintasan Harimau

Demi Belajar Online, Anak-anak Tapsel Lalui Jalur Perlintasan Harimau

Demi Belajar Online, Anak-anak Tapsel Lalui Jalur Perlintasan HarimauDemi mendapatkan jaringan internet untuk mengikuti belajar online, anak-anak di Desa Tapus Sipagimbal, Kecamatan Aek Bilah, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara terpaksa masuk ke areal terbuka di hutan yang menjadi perlintasan harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae).

Kepala BBKSDA Sumut, Hotmauli Sianturi mengatakan, kemunculan harimau di desa tersebut sudah terjadi sejak Mei 2020. Warga yang resah melaporkannya kepada petugas. Harimau tersebut diduga telah memangsa anjing, ular dan kambing milik warga.

“Harimau memangsa kambing pada 15 Agustus 2020. Masyarakat resah,” kata Hotmauli dilansir Kabarmedan.com jaringan Suara.com, Selasa (1/9/2020).

Pihaknya kemudian memasang kandang dan jerat pada 22 Agustus 2020. Hanya waktu 2 malam, harimau masuk ke dalam kandang jerat.

Hotmauli mengatakan, harimau yang dievakuasi berjenis kelamin betina dengan berat 45,2 Kg.

Usianya diperkirakan 2-3 tahun. Saat ditemukan kondisinya lemah. Dari hasil pemeriksaan sampel darah, diketahui harimau tersebut mengalami dehidrasi, malnutrisi dan anemia.

“Dari analisa perilaku, harimau baru lepas sapih dari induknya,” katanya.

Harimau sudah diamankan

Harimau itu dibawa ke Barumun Nagari Wildlife Sanctuary untuk direhabilitasi dan dipulihkan kondisinya.

Hotmauli mengatakan, harimau tersebut masih memiliki sifat liar. Saat bertemu dengan manusia, harimau langsung mengaum.

“Kondisinya agak lemah. Dari berat badan itu di bawah normal. Tapi secara keseluruhan tidak ada bekas jerat, dan dokter hewan yang mengawasi optimis, tidak terlalu lama kondisinya akan pulih,” ungkapnya.

Pihaknya telah melaporkannya ke pusat dan melakukan diskusi dengan para pegiat-pegiat konservasi terkait penanganan harimau tersebut.

Pihaknya juga masih melakukan assesment terkait lokasi pelepasliaranya. Salah satunya di zona inti Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) untuk menghindari konflik.

Hotmauli menerangkan, saat ini harimau sumatera ada sekitar 400-600 ekor populasi se sumatera.

Sementara di Sumut, jumlahnya sekitar 33 ekor dan tersebar di beberapa titik dan tidak selalu tersambung. Namun tidak semua harimau tersebut muncul di kawasan konservasi.