Sebab Masyarakat Gak Patuh Protokol Kesehatan

Sebab Masyarakat Gak Patuh Protokol Kesehatan - Sebab Masyarakat Gak Patuh Protokol Kesehatan

Apa Sebab Masyarakat Gak Patuh Protokol Kesehatan? Ini Kata BPS

Sebab Masyarakat Gak Patuh Protokol Kesehatan – Berdasarkan survei Badan Pusat Statistik terkait perubahan perilaku masyarakat di masa pandemi COVID-19, terdapat sejumlah indikasi sebab kenapa sebagian masyarakat masih abai menerapkan protokol kesehatan.

Survei itu dilakukan pada 7-14 September 2020 dengan 90.967 responden. Dalam survei itu, Kecuk memaparkan persentase alasan masyarakat tak mematuhi protokol kesehatan. “Alasan tidak menerapkan protokol kesehatan ada tiga.

Yang paling tinggi di sana bahwa 55 persen responden menganggap bahwa tidak ada sanksi,” kata Suhariyanto seperti dilansir dari twohearts-camping.com, Senin.

Perempuan lebih patuh protokol kesehatan ketimbang laki-laki

Suhariyanto menjelaskan, ada 92 persen responden yang sudah menggunakan masker selama pandemik COVID-19. Kemudian, responden yang patuh mencuci tangan selama 20 menit berada di angka 75 persen dan menjaga jarak mencapai 73 persen.

Selain itu, jika dibandingkan dengan survei yang dilakukan pada bulan April 2020 lalu, persentase responden yang menggunakan masker meningkat 8 persen. Dia kembali menegaskan, sosialisasi harus dilakukan lebih gencar. Menurutnya, mengenakan masker tanpa menjaga jarak, tidak akan ada gunanya.

“Perempuan itu jauh lebih patuh dari pada laki-laki ketika menerapkan protokol kesehatan. Baik ketika menggunakan masker, menjaga jarak mau pun mencuci tangan,” ucapnya.

Penerapan Sanksi Masih Harus Lebih Dipertegas Lagi

Aparat dan pimpinan tak memberikan contoh terkait protokol kesehatan

Suhariyanto mengatakan, pemerintah saat ini sudah menerapkan sanksi bagi pelanggar protokol kesehatan. Dia berharap, ke depannya sanksi perlu dipertegas lagi.

Alasan kedua, 39 persen responden merasa tidak ada penderita COVID-19 di lingkungan sekitar. Hal itu yang membuat mereka tidak patuh dengan protokol kesehatan. Ketiga, 33 persen responden tidak menerapkan protokol kesehatan karena hal itu mengganggu pekerjaannya.

“19 persen tidak menerapkan protokol kesehatan karena aparat atau pimpinannya tidak memberikan contoh. Jadi nampaknya ke depan ini perlu sentuhan seluruh pimpinan, seluruh aparat harus memberikan contoh ke depan supaya masyarakat mengikuti,” ujarnya.

Masyarakat berusia muda cenderung abai protokol kesehatan

Survei ini melibatkan 55 persen responden perempuan dan 45 persen responden laki-laki. Selain itu, 69 persen responden berusia kurang dari 45 tahun dan 61 persen responden berpendidikan D4 sampai S1.

“Ketika kita gandengkan dengan pendidikan, semakin tinggi tingkat pendidikan kepatuhannya juga semakin meningkat,” katanya.

Suhariyanto melanjutkan, masyarakat yang berumur lebih tinggi atau 45 tahun ke atas jauh lebih patuh protokol kesehatan. Dia menyimpulkan, ada kecenderungan mereka yang berusia muda kurang mematuhi protokol kesehatan.

“Sehingga ini jadi perlu diperhatikan ketika melakukan sosialisasi. Saya pikir perlu sentuhan khusus kepada kaum muda dengan cara-cara yang lebih mengena buat mereka,” kata dia.

Suhariyanto menambahkan, 45 persen responden akan memperketat protokol kesehatan, jika menemukan orang yang terinfeksi COVID-19 di lingkungannya. Kemudian, 22 persen responden akan memberikan dukungan kepada mereka yang terpapar COVID-19.

“Masih ada 7 persen masyarakat yang akan mengucilkan atau memberikan stigma negatif kepada penderita. Tentunya ini tidak bisa dibiarkan saja. Jadi ke depan, sosialisasinya lebih gencar mengenai pemahaman yang tepat mengenai COVID-19,” tuturnya.