Tradisi Bakar Batu Bentuk Toleransi Masyarakat Papua

Tradisi Bakar Batu Bentuk Toleransi Masyarakat Papua

Tradisi Bakar Batu Bentuk Toleransi Masyarakat Papua 

hqdefault - Tradisi Bakar Batu Bentuk Toleransi Masyarakat Papua

Tradisi Bakar Batu Bentuk Toleransi Masyarakat Papua – Dulu dalam sejarahnya bakar batu bagi masyarakat Tengah Papua, adalah pesta daging babi. Namun sekarang di sejumlah tempat, pesta batu bakar sudah tidak lagi hanya daging babi, juga menyediakan daging ayam yang akan disuguhkan untuk mereka yang tidak bisa makan babi. Boleh jadi, ini menjadi bukti lain dari koleksi asli masyarakat Papua.

TIga tahun lalu, kompilasi mendapat kesempatan datang ke Tolikara, saya diajak untuk Daftar Kiss918 menghadiri pertemuan besar Bupati Tolikara Usman Wanimbo dengan masyarakatnya di sebuah distrik yang jauh dari Kota Karubaga, Ibu Kota Kabupaten Tolikara. Sejak pagi, sebelum bupati dan rombongan datang, sebagian masyarakat sibuk mengumpulkan batu bakar. Ada yang datang membawa kayu, sayuran, rumput, dan batu. Ada yang disiapkan lubang, ada yang mulai memotong batu-batu dan ada pula yang memotong babi dan ayam.

Semua berlangsung sangat cepat. Saat batu-batu sudah dibara dia atas kayu yang dibakar, batu dimasukkan ke dalam lubang sedalam kurang lebih 50 cm yang sudah disiapkan dengan alas rumput. Di atas batu kembali dimasukkan sayuran, dibahas daging, betatas, hipere (ubi), pisang juga dimasukkan ke dimasukkan. Jika semua sudah masuk, kemudian tutup kembali dengan sayuran dan rumput. Untuk mengikatnya, mereka mengganti batu-batu di atas ujian yang dilepas.

Sambil menunggu daging matang, di situlah bupati dan para pejabat memberikan sambutan dan imbauan. Ratusan masyarakat yang datang duduk di tanah dengan berkelompok sesuai kampung masing-masing. Mereka berbicara dengan baik bupati dan tokoh masyarakat lokal.

Menginjak selai makan siang, dan pidato usai, sebagian besar yang dimasak selesai segera melepaskan batu bakar. Mereka mengiris daging yang besar-besar menjadi lebih kecil. Para perwakilan kelompok mendatangi lubang bakar batu. Mereka dapat jatah untuk masing-masing kelompok.

Pejabat yang datang mendapat antaran pertama bakaran. Juga para pejabat non-Kristen yang hadir disuguhi daging ayam hasil bakar batu itu. Setelah itu baru dimulai masyarakat yang hadir.

Masyarakat antre rapi dan tidak rebutan. Masing-masing kelompok mewakilkan salah satu anggotanya untuk mendekat ke lubang bakaran. Setelah mereka mendapat bagian, wakil ini lari menuju tempat kelompoknya berkumpul. Jika masih kurang, mereka kembali lagi ke tempat bakar batu. Hebatnya, variasi orang yang akan datang dapat bagian semua.

Bakar batu merupakan tradisi suku Dani di Pegunungan Tengah Papua. Atau di suku Lani disebut lago lakwi. Di Wamena, batu bakar lebih dikenal dengan sebutan kit oba isago , sedangkan di Paniai disebut dengan mogo gapil . Sementara itu di masyarakat Papua pantai, acara ini dikenal dengan istilah barapen .

Dalam tradisi bakar batu yang ada artinya, yang diajukan syukur pada Tuhan dan simbol solidaritas yang kuat. Bakar batu merupakan ritual memasak bersama yang dimaksudkan untuk mewujudkan rasa syukur bagi sang pemberi kehidupan.

Bakar batu juga sebagai alat bersilaturahmi dengan keluarga dan kerabat, menyambut kabar gembira, atau mengumpulkan prajurit untuk berperang dan pesta setelah perang. Atau bahkan media perdamaian antarkelompok yang berperang.

Ritual ini juga sering dilakukan untuk menghimpun orang di prosesi pembukaan ladang, kelahiran, kematian, berburu, membangun rumah, perkawinan, dan juga hal-hal lain yang memerlukan mobilisasi massa dalam jumlah besar.

Upacara bakar batu juga merupakan simbol kesederhanaan masyarakat Papua. Ini adalah persamaan hak, keadilan, kebersamaan, kekompakan, kejujuran, ketulusan, dan keikhlasan yang dibawa pada saat perdamaian.

Bahkan di komunitas muslim Papua, misalnya, di daerah Walesi Jayawijaya dan komunitas muslim Papua daerah lain, dalam menyambut Ramadhan, mereka juga mengerjakan batu bakar. Namun media yang dibakar diganti ayam. (E-2)